7 Tips Menumbuhkan Sifat Berani pada Anak yang Pemalu

7 Tips Menumbuhkan Sifat umum terjadi pada beberapa anak, tetapi sesungguhnya ada factor yang lain ikut bisa mengakibatkan seorang anak jadi pemalu, seperti mengikuti karakter orangtua, tidak diberikan bergaul sejak awal kali, korban penghinaan (bullying), dan selalu dituntut jadi menjadi yang terhebat dalam segalanya.

Sesungguhnya anak pemalu kemungkinan pengin bergaul, tetapi mereka sering berasa takut, sangsi, dan tidak paham bagaimana triknya. Harus diingat, peranan orangtua dalam pembangunan watak anak sangat penting. 7 Tips Menumbuhkan Sifat
Berikut sejumlah hal yang dapat Bunda dan Ayah kerjakan untuk tumbuhkan karakter berani pada anak yang pemalu:
1. Dorong anak untuk bercerita beberapa hal yang membuat malu
Anak yang pemalu biasanya berasa malu untuk menceritakan dan tampilkan kekuatannya. Karena itu, coba ajak Sang Kecil untuk meluapkan isi hatinya, untuk cari tahu apakah yang membuat gampang berasa malu.
Dengan demikian, Bunda dan Ayah bisa tentukan langkah yang pas untuk menggerakkan keberaniannya dan menantang rasa malu yang ia alami.
Jika orangtua sanggup dengarkan isi hati anak, Sang Kecil dapat berasa mempunyai tempat untuk meluapkan hatinya. Ini makin lama akan menolongnya untuk lebih berani berbicara sama orang lain.
2. Tidak boleh sebutkan anak pemalu
Walau dia pemalu, tetapi jauhi mengatakan “anak pemalu”, sebab dia bisa saja akan betul-betul yakini jika dia memang apakah yang disebutkan orang ke dianya. Ucapkan juga ke beberapa orang paling dekatnya tidak untuk menjelaskan hal sama.
Kebalikannya, Bunda dan Ayah dapat mendorongnya supaya lebih berani, lewat kalimat afirmatif dan suportif, setiap dia coba lakukan hal baru, seperti “wah, anak Bunda, jawara dan pemberani, ya? Luar biasa!”.
3. Jauhi membentak anak
Saat anak mulai memperlihatkan karakter pemalu, Bunda dan Ayah seharusnya tidak lalu membentak atau mengolok-oloknya. Tidak boleh juga memaksakan ia untuk lakukan hal yang ditakuti. Coba untuk pahami hatinya lebih dulu.
Statuskan langkah pandang Bunda dan Ayah, seperti langkah Sang Kecil melihat orang dan lingkungan disekelilingnya. Perlahan terangkan padanya jika sesungguhnya tidak ada sesuatu hal yang penting dia takuti. Bunda dan Ayah bisa juga memberikan contoh bagaimanakah cara hadapi keadaan yang Sang Kecil jauhi.
4. Taruh anak pada keadaan sosial
Orangtua dapat langsung turun menolong anak berkawan dengan beberapa temannya. Sebagai contoh, saat acara sekolah, Bunda dan Ayah mulai bisa perbincangan dengan beberapa temannya dan pancing Sang Kecil untuk berhubungan sama mereka.